1.000 Pekerja Minyak Norwegia Kena Lockout, Produksi Terancam Anjlok

Jakarta, A house called nut Indonesia

Sebanyak 1.000 pekerja servis

minyak

di Norwegia resmi dilarang masuk kerja (

lockout

) mulai Sabtu (27/6) pagi waktu setempat. Langkah penutupan ini merupakan eskalasi dari perselisihan ketenagakerjaan yang diperkirakan bakal mengganggu aktivitas pengeboran serta sebagian

produksi

di landas kontinen

Norwegia

.

Melansir

Reuters,

berdasarkan pernyataan kelompok industri Offshore Norway pada Jumat (26/6),

lockout

dideklarasikan sebagai respons terhadap aksi mogok kerja yang sedang berlangsung oleh ratusan anggota serikat pekerja Safe.

Kebijakan tersebut berdampak pada sejumlah perusahaan besar seperti SLB, Halliburton, Subsea 7, DOF Subsea, Weatherford, DeepOcean, dan Baker Hughes.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Offshore Norway mengonfirmasi bahwa sekitar 1.000 anggota Safe yang tercakup dalam perjanjian servis sumur minyak harus berhenti bekerja akibat

lockout

yang dimulai Sabtu (27/6) pukul 07.00 waktu setempat.

Adapun total anggota yang tercakup dalam kesepakatan upah tersebut mencapai 1.770 orang, di mana 500 di antaranya merupakan pekerja yang memegang peran krusial bagi keselamatan dikecualikan dari

lockout.

Akibat pemogokan sebelumnya kinerja produksi Norwegia turut terganggu, di mana operasional pengeboran dan sumur minyak telah berhenti total di beberapa lokasi. Beberapa lokasi tersebut seperti, empat menara bor bergerak atau

four mobile rigs,

lima instalasi tetap atau

five fixed installations,

serta terhentinya satu kapal intervensi atau

intervention vessel.

[Gambas:Youtube]

Offshore Norway memproyeksikan

output

minyak dan gas negara berpotensi mengalami penurunan sekitar 12 ribu barel setara minyak per hari (boepd) pada pekan depan.

Selain itu, dampak kerugian produksi ini juga berpotensi membengkak secara signifikan hingga melebihi 120 ribu boepd setelah pertengahan Juli jika aksi mogok terus berlanjut.

Sebagai informasi, Norwegia merupakan pemasok gas jalur pipa terbesar di Eropa dan memproduksi sekitar 2 persen minyak global, atau sekitar 4 juta boepd untuk total minyak dan gas.

Serikat pekerja Safe pertama kali meluncurkan aksi mogok kerja pada 15 Juni setelah gagal mencapai kesepakatan upah dengan pihak pemberi kerja. Di sisi lain, serikat pekerja lain bernama Styrke telah menerima tawaran upah yang diajukan.

Merespons situasi terkini, pihak Safe menyatakan pada Jumat (26/6) bahwa mereka berencana menarik 63 anggota tambahan dari sisa 500 pekerja yang dikecualikan mulai 1 Juli mendatang. Langkah ini menambah daftar 378 anggota Safe yang sudah lebih dulu melakukan pemogokan.

Secara hukum, pemerintah Norwegia memiliki wewenang untuk mengintervensi demi menghentikan aksi mogok kerja maupun

lockout

jika dinilai membahayakan kepentingan ekonomi vital negara. Namun, pemerintah menegaskan tidak akan gegabah mengambil langkah tersebut.

“Ambang batas untuk intervensi sangatlah tinggi. Arbitrase upah wajib adalah, dan harus tetap menjadi, pilihan terakhir,” ujar Menteri Ketenagakerjaan Kjersti Stenseng kepada

Reuters

pada Selasa (22/6) lalu.

(ins)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Siap-siap, Puncak Hujan Meteor Bootids Hiasi Langit RI Malam Ini

Baca lagi: Diskon Jutaan Rupiah Sepeda Listrik di Transmart Full Day Sale, Sikat!

Baca lagi: Davina Karamoy Kenang Respons Unik Ibunya Saat Ia Putus Cinta Pas SMA

28 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: