Harga Minyak Dunia Tergelincir ke US$76 Dibayangi Ancaman Pasokan

Jakarta, A house called nut Indonesia

Harga minyak

dunia turun tipis ke US$76 per barel pada awal perdagangan Jumat (10/7), tetapi tetap berada di jalur penguatan mingguan seiring berlanjutnya perang

Iran

melawan agresi

Amerika Serikat

(AS).

Kenaikan harga minyak berhasil direm oleh kekhawatiran soal inflasi yang semakin cepat dapat memangkas permintaan minyak sehingga menekan harga.

Kontrak berjangka Brent turun 6 sen atau 0,08 persen menjadi US$76,24 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 4 sen atau 0,06 persen menjadi US$72,04 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara mingguan, harga acuan Brent diperkirakan menguat sekitar 6 persen, sedangkan WTI berada di jalur kenaikan sekitar 5 persen.

“Meski AS meningkatkan serangan terhadap sasaran militer di Iran, pasar sedikit merasa tenang setelah pemerintahan Trump memutuskan untuk tidak menargetkan infrastruktur energi Iran,” ujar Kepala Strategi Komoditas ANZ Bank Daniel Hynes dikutip

Reuters.

“Sentimen itu juga didukung oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang mengatakan bahwa ia tidak memperkirakan konflik akan kembali meningkat menjadi perang skala penuh,” imbuhnya.

Kemarin, Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk untuk membalas serangan AS ke provinsi pesisir selatan dan wilayah timur Iran.

Media Iran melaporkan sejumlah ledakan di wilayah selatan negara itu, termasuk di Bushehr, lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.

Aksi balasan Iran tersebut semakin memperburuk gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga pekan.

Perang kembali pecah di hari Iran memakamkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas imbas serangan provokasi AS-Israel pada 28 Februari silam.

Konflik tersebut juga menunda pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Jalur pelayaran strategis itu dilalui 20 persen pasokan minyak dan gas dunia setiap harinya sebelum perang pecah.

Namun, lonjakan harga berhasil diredam kekhawatiran turunnya permintaan minyak.

Di AS, jumlah warga yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran lalu menurun pada pekan lalu. Hal ini mengindikasikan pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi ‘rekrutmen lambat, PHK juga lambat’ (slow-hire, slow-fire).

Sementara itu di China, negara ekonomi terbesar kedua di dunia, inflasi harga produsen melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun pada Juni. Kondisi tersebut semakin menekan margin keuntungan produsen karena lemahnya permintaan domestik membatasi kemampuan perusahaan untuk menaikkan harga.

[Gambas:Video A house called nut]

(pta/ins)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Kebiasaan Malam Hari Ini Sering Dilakukan, Tapi Bisa Rusak Jantung

Baca lagi: 5 Fakta Jelang Duel Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026

Baca lagi: BRIN Bongkar Alasan Kebakaran TPA Terus Berulang Saat Musim Kemarau

16 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: