Harga Minyak Menanjak ke US$92,29 Barel Imbas Serangan AS ke Iran

Catatan:

Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi

A house called nutIndonesia.com

Jakarta, A house called nut Indonesia

Harga minyak

dunia menguat hampir 1 persen pada perdagangan Rabu (10/6), setelah militer

Amerika Serikat

(AS) melancarkan serangan baru terhadap

Iran

. Kenaikan juga didorong oleh menyusutnya persediaan minyak mentah AS yang memperketat pasokan di pasar global.

Mengutip

Reuters

, harga minyak mentah Brent naik 83 sen atau 0,9 persen menjadi US$92,29 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turut naik 68 sen atau 0,8 persen ke level US$88,97 per barel.

Penguatan terjadi sehari setelah harga minyak menyentuh level terendah dalam sekitar tujuh pekan. Pada perdagangan Selasa (9/6), Brent ditutup pada level terendah sejak 17 April, sedangkan WTI berada di posisi terlemah sejak 29 Mei.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah militer AS melancarkan serangan terhadap target-target di Iran. Serangan tersebut dilakukan setelah Presiden Donald Trump berjanji akan merespons jatuhnya helikopter serang Apache milik AS yang ditembak jatuh pada awal pekan ini.

Perkembangan terbaru itu memunculkan kekhawatiran pasar bahwa gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran dapat kembali runtuh. Sebelumnya, Israel dan Iran sempat menghentikan serangan langsung satu sama lain setelah Trump mendesak kedua pihak menghentikan permusuhan.

Namun, Teheran menyatakan akan kembali melancarkan serangan apabila Israel terus menyerang kelompok Hizbullah di Lebanon. Di sisi lain, penolakan Israel untuk menghentikan operasi militernya terhadap kelompok yang didukung Iran tersebut dinilai menghambat upaya AS untuk memperpanjang gencatan senjata menjadi kesepakatan damai yang lebih permanen.

[Gambas:Youtube]

Pasar juga masih mencermati gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Iran disebut masih membatasi sebagian besar aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Sementara itu, Washington tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selain faktor geopolitik, harga minyak turut terdorong oleh penurunan persediaan energi di Amerika Serikat. Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah AS turun selama delapan pekan berturut-turut hingga pekan yang berakhir 5 Juni.

Sumber pasar yang mengutip data API menyebut persediaan minyak mentah AS menyusut 9,12 juta barel dalam sepekan. Sementara itu, stok bensin juga turun 1,19 juta barel.

Penurunan cadangan minyak tersebut berpotensi mengurangi kemampuan ekspor AS ke pasar internasional. Selama konflik berlangsung, AS menjadi salah satu pemasok tambahan minyak mentah dan produk energi ke kawasan Asia dan Eropa.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran bahwa pasokan global akan semakin ketat apabila persediaan energi AS terus menurun, sehingga berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi dalam waktu dekat.

(ldy/pta)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Veda Kaget Bisa di Papan Atas Moto3: Enggak Ngira Bisa Seperti Ini

Baca lagi: John Herdman: Level Timnas Indonesia Tinggi, Lemah Penyelesaian Akhir

Baca lagi: Rutin Memasak, Lansia Bisa Turunkan Risiko Demensia hingga 30 persen

5 Responses

  1. Sensasi bermain di situs slot yang lagi viral memang berbeda karena tersedia banyak pilihan game populer dengan tampilan menarik dan fitur lengkap. Mulai dari bonus new member, cashback harian, hingga jackpot besar siap menemani permainanmu kapan saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: