Krisis Minyak Eropa Mengancam Sepanjang Mei Imbas Perang Timur Tengah

Jakarta, A house called nut Indonesia

Wakil Ketua Eksekutif Abaxx Commodity Exchange Jeff Currie memprediksi

Eropa

bakal dihantam

krisis minyak

pada akhir bulan ini imbas perang di Timur Tengah yang terus berlanjut.

Menurut Currie potensi kelangkaan Eropa ini dikarenakan dampak perang yang bakal membuat cadangan minyak terus menyusut dan baru akan pulih pada Desember 2027.

“Kelangkaan fisik bisa menghantam Eropa kapan saja mulai sekarang,” ujar Currie dalam wawancara dengan

CNBC

, Senin (18/5) waktu setempat, yang dikutip pada Selasa (19/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menilai tekanan terhadap pasar minyak akan semakin besar seiring menipisnya cadangan global. Currie menyebut harga minyak berpotensi melonjak tajam ketika pasokan benar-benar mengalami gangguan serius.

“Begitu kekurangan terjadi, harga akan bergerak

non-linear

,” katanya.

Currie menjelaskan pasar minyak saat ini sedang memasuki periode shoulder months atau masa transisi permintaan yang biasanya menjadi fase terlemah dalam siklus tahunan komoditas energi. Namun, kondisi tersebut diperkirakan berubah drastis menjelang musim liburan di Amerika Serikat dan Inggris.

[Gambas:Youtube]

Permintaan diesel, bensin, dan minyak diproyeksi melonjak saat libur Memorial Day di AS dan libur musim semi di Inggris dimulai. Kondisi itu diperkirakan akan mempercepat tekanan terhadap pasokan energi global.

“Di situlah nanti dampaknya mulai terasa,” imbuh Currie.

Harga minyak sendiri kembali melonjak pada awal pekan ini setelah International Energy Agency (IEA) memperingatkan stok minyak global menyusut dengan cepat. Kekhawatiran pasar meningkat akibat terganggunya distribusi energi dari Timur Tengah.

Analis Societe Generale yang dipimpin Mike Haigh menyebut pasar minyak saat ini hanya terlihat stabil di permukaan. Menurut mereka, sistem pasokan global sebenarnya sedang berada dalam tekanan berat.

“Pasar minyak saat ini beroperasi di bawah lapisan stabilitas semu, tetapi sistem dasarnya masih berada dalam tekanan akut,” tulis analis Societe Generale dalam catatannya.

(ldy/ins)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Usai BEI, Dasco Bakal Lanjut Sidak ke Bank Indonesia

Baca lagi: Daftar Line Up Penampil Jogja Financial Festival 2026

Baca lagi: Iran Resmi Umumkan Badan Khusus Awasi Lalu Lintas Selat Hormuz

5 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: